SmileyBackpacker.com - Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya, selain
sebagai suatu fase panjang yang harus kita lalui sebagaimana mestinya,
untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hidup tak selalu bisa terencana akan
dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani
tanpa tahu arah dan tujuan, namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia
hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.
Bagi gue, hidup sekadar halte persinggahan semata, sedang akhirat adalah tujuan akhir kita. Itu sebabnya gue selalu bertanya-tanya, kapan waktu gue bakal sampai ke tujuan? Hari ini? Esok Lusa? Entahlah. Yang gue yakini, sama seperti ketika gue naik bus dan sudah dekat dengan tujuan, maka gue harus segera bersiap-siap untuk menyetop bus, dan melangkah turun. Gue nggak bakal bisa maksa kenek atau bahkan supir bus untuk jangan segera sampai di tujuan.
"Pak, jalannya jalan ngebut, kita santai aja ya. Relaks, Man ... Kaleuum, takkan lari gunung dikejar, apalagi ngejar cewek. Gue nggak mau cepet-cepet nyampe nih, di sono udah ditungguin sama debt colector soalnya. Jadi pelan-pelan aja ya, Pak!"
PLETAKZ! Bisa dibayangkan, mungkin sepasang bakiak bakal mampir di kepala gue kalau gue nekad bilang kayak gitu. Meski entah gimana, gue nggak bisa bayangin buat apa si supir bus bawa-bawa bakiak ke mana-mana. Mungkin buat persiapan kalau nemu penumpang absurd macam gue?
Sama halnya seperti HIDUP. Kita nggak bakal bisa tawar menawar dengan Tuhan, kapan kita ingin dijemput oleh Malaikat Maut. Men, malaikat maut itu bukan sohib yang bisa seenaknya dibujuk rayu sama kita, tinggal dikedipin dikit sama ditraktir secangkir kopi, udah ngalah. NO. Seorang teman pernah bilang, kalau ditotal, waktu buat kita hidup di dunia itu paling cuma sekedipan mata buat mereka yang udah ada di akhirat. Pernah mampir ke Akhirat? Pasti belum dong ya. Mau ke sana? Mangga, duluan aja deh, sebagai temen yang rendah hati, saya rela kebagian jatah paling akhir. heehehehe #LantasNgacir.
Kalau iman gue lagi turun, gue suka takut ngebayangin kematian. Bukan apa-apa, gue ngerasa bekal yang gue siapin belum cukup. Masih jauh dari kata CUKUP malah. Gue senantiasa dibayang-bayangin sama satu hal: Gue pengen masuk SURGA, tapi jangan-jangan tiket gue cuma cukup buat masuk ke NERAKA? Astagfirullah #BuruburuAmbilWudhu.
Selain bekal ibadah, ada satu hal lagi yang selama ini jadi beban pikiran gue. Yaitu, pertanyaan "Kalau besok lo meninggal, lo mau dimakamin di mana?". Gue yakin banyak orang yang sama sekali belum kepikiran mau dimakamin di mana. Sementara, pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan, besok lusa gue harus punya rumah. Mau beli rumah di mana? Tipe berapa? Bangunannya seperti apa? Yup, banyak diantara kita sibuk mempersiapkan tempat tinggal di dunia, tapi lupa mau tinggal di mana kita nanti saat tiba-tiba ajal menjelang.
Beban pikiran itu juga yang mendadak kembali nyangkut di kepala, saat gue dapet kesempatan jalan-jalan berkunjung ke AL AZHAR MEMORIAL GARDEN di Karawang, Jawa Barat. Sebuah pemakaman yang dimiliki oleh Yayasan Al Azhar dan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 25 hektar.
Terus terang aja, gue takjub liat tempat ini. Mungkin nggak semewah pemakaman-pemakaman cina yang ada di Indonesia, juga nggak semewah pemakaman sejenis yang saat ini lagi ngehits, itu tuuuh ... #LirikKaplingSebelah.
Menurut Ibu Maya Dewi selaku General Manager of Al Azhar Memorial Garden, ada tujuh (7) syarat makam yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu:
- Liang lahat memiliki panjang 200 cm, lebar 80 cm dan kedalaman 150 cm.
- Makam menghadap qiblat. Untuk wilayah Indonesia, arah kiblat menghadap ke Barat Laut. Dan arah barat laut setiap daerah diIndonesia memiliki koordinat yang berbeda-beda.
- Letak makam memungkinkan jenazah dihadapkan ke arah qiblat.
- Tinggi maksimal gundukan pada makam dibuat merata permukaannya dan memiliki tinggi hanya 10 cm.
- Makam tidak boleh diinjak-injak dan terjaga dari terlangkahi atau diduduki.
- Pemeliharaan (penataan dan pengurusan) dijalankan sesuai dengan syariah Islam atas dasar jual beli dengan prinsip sederhana dan rukun jual beli terpenuhi.
- Areal pemakaman hanya ditujukan untuk memakamkan dan ziarah saja.Takada fasilitas lain yang dapat menimbukan tindakan pemborosan dan berlebihan (israf) dalam pemakaman.
Kenapa gue bilang nggak mahal, bahkan menurut gue sangat murah? Karena harga ini untuk seumur hidup dan nggak bakal ada biaya-biaya tambahan lain, karena semuanya ditanggung oleh pihak Al Azhar Memorial Garden. Nggak tanggung-tanggung, Pihak AAMG mengerahkan sekitar 22 orang pegawai yang bertanggung jawab untuk mengurus kebersihan makam.
Ketika gue dan temanteman berkesempatan keliling makam untuk melihat-lihat 3 type makam yang ada di sana, yaitu single, double, dan family, yang gue lihat bukan makam-makam mewah seperti yang ada di tempat lain. Melainkan betul-betul sebuah kompleks pemakaman yang asri, adem, sangat sederhana, dengan batu-batu nisan yang betul-betul sederhana sesuai dengan syariat Islam, sangat jauh dari kesan mewah.
Langsung kebayang di pelupuk mata, andai gue bisa booking satu kapling tipe Family di pemakaman ini, tentu gue, tiga anak gue, 2 orangtua, dan keluarga adik gue (4 orang) nantinya nggak perlu pusing2 lagi bertanya mau dimakamin di mana. Siapa yang mau mengurus makamnya, mesti nyiapin dana berapa, dan lain sebagainya.
Ah, backpackeran ke Karawang saat itu udah buka mata gue lebar-lebar, bahwa sejatinya kita nggak perlu takut dengan kematian. Malah harus dengan sangat serius dan senang hati menyiapkan segala sesuatunya, agar ketika saat itu tiba, kita bisa menyambutnya dengan penuh syukur.
KIRI, PIR!!















