Air Mata Perpisahan




SmileyBackpacker.com - Anak-anak menangis. Gue masih inget betul waktu itu bulan April 2010. Usia Hafidz waktu itu baru 9 tahun, sementara Rayna 8 tahun. Gue baru aja memutuskan buat resign dari kantor redaksi tabloid Islam tempat gue selama dua tahun bekerja.
Anak-anak menangis, bukan karena nggak dikasih jajan atau mainannya hilang. Tapi karena emak kesayangannya tiba-tiba sudah bersiap-siap pergi. Biasanya mereka nggak pernah rewel bertanya kalau gue mau pergi kemanapun. Karena mereka tau, gue pergi untuk kembali, jyaaaah ... (koprol ala emak). 

Tapi kali ini ada yang beda. Tas yang gue bawa nggak seperti biasanya. Kalo selama ini gue pergi kemanapun dengan tas ransel yang ukurannya biasa-biasa aja, kali ini gue nyiapin ransel lumayan gede buat perjalanan pertama gue. Itupun ransel hasil pinjaman dari seorang teman fesbuk. Hihihi... bener-bener memanfaatkan pertemanan banget yak. Tas belel berwarna biru nggak jelas itu pun akhirnya jadi sahabat gue selama perjalanan. Tas itu telah berjasa, ngebantu gue bawa semua keperluan gue. Tas itu, ah sudahlah. Sekarang kan bukan waktunya buat bahas tas. Pembahasan soal tas mah nanti aja ye, tunggu bab-bab berikutnya.

Back to topic.

Anak-anak gue yang imut, Hafidz dan Rayna kaget ketika di suatu pagi yang cerah ceria, emaknya sudah siap di depan rumah. Ransel gede udah ngejogrok manis depan pintu. Semalam gue udah jelasin ke mereka kalo gue bakal pergi agak lama. Mereka cuek, mungkin karena ngantuk ya? Yang jelas, pagi ini mereka kembali mempertanyakan kenapa emak keliatan cakep banget, hendak kemanakah?

“Mak, perginya lama nggak?” tanya Hafidz si sulung.

Gue gelengin kepala, “Sebentar kok, Nak. Jangan nakal ya di rumah. Jaga adiknya”.

Rayna adiknya, cuma ngerengek-rengek manja. Gue jadi curiga, dia ngerengek karena emaknya mau pergi atau karena belom sarapan ya?

Sebenernya gue maklum kenapa mereka bersikap kayak gitu. Setelah pisah dari bapaknya sekian tahun silam, gue sama anak-anak emang nggak pernah kepisah lama. Gue kerja di sebuah tabloid dan meskipun pergi subuh pulang larut malam, tetep aja setiap hari gue pulang. Nggak pernah gue nginep di satu tempat tanpa bawa anak-anak. Tapi kali ini beda. Gue ngerasa, udah saatnya buat gue belajar berani. Berani memulai impian gue buat uji nyali, pergi ke tempat baru dan melihat dunia luar.

Bukan gue tega sama anak-anak (siapa yang berani bilang gitu, sini berhadapan langsung sama gue!). Justru gue juga sekaligus pengen mereka belajar arti sebuah perpisahan (mmmm, rasanya pernah baca tulisan ini di belakang bodi truk deh). Seandainya suatu saat gue nggak ada, hiks, gue pengen mereka bertahan hidup dan nggak jadi orang yang cengeng. Mereka harus kuat dan mandiri. Yeah, selama ini mereka juga udah jadi anak-anak manis sih. Mereka nggak pernah ngeluh sedikitpun, meski emaknya sering ninggalin mereka ketika harus berubah fungsi jadi bapak.

Perpisahan-perpisahan kecil setiap hari udah bikin gue jatuh bangun dengan hati remuk. Kalo nurutin kata hati, gue pengen selalu ada di samping anak-anak gue mulai dari bangun tidur sampe malam hari ketika mereka mulai memejamkan mata dengan tubuh lelah kebanyakan main. Tapi gue percaya, ada yang harus gue perjuangkan di luar sana. Seenggaknya, gue harus berjuang buat kasih mereka makan makanan yang halal dan layak, kasih mereka pendidikan yang baik, pakaian yang bersih dan pantas. Semua itu nggak bakal bisa gue wujudkan kalo gue nggak bekerja kan?

Kali ini gue pengen banget wujudkan mimpi gue. Berpetualang mencari pengalaman batin. Gue udah lama banget memimpikan ini. Sejak gue kecil, sampe akhirnya gue mutusin berhenti kerja sebulan yang lalu dari tempat kerja gue yang lama. Gue pengen belajar dari kehidupan. Punya bekal yang cukup buat ngasih kekayaan batin yang sama buat anak-anak gue kelak. Sesederhana itu.

Sore itu, pelajaran pertama dimulai. Pelajaran tentang kehilangan. Kehilangan sosok emak untuk sekian waktu ke depan. 

Well, children ... Emak pasti kembali. Janji! ini serius, bisa dicek!

Dengan mantap gue kuatin hati dan memeluk Hafidz serta Rayna erat-erat.

“Hafidz, jaga Rayna baik-baik ya, kalian nggak boleh nakal. Harus nurut sama Mamah dan Abah (nenek dan kakeknya, red). Emak pergi dulu, nanti pulang bawa oleh-oleh yang banyak buat kalian, ya? Doakan ...”

Dengan pelukan yang sama eratnya, mereka, anak-anak terkiyut itu, akhirnya melepaskan emak kesayangan mereka yang cuma satu-satunya dan nggak ada kembarannya di dunia ini untuk pergi melangkahkan kaki entah menuju kemana. Mereka nggak tahu, karena memang sengaja gue nggak beritahu mereka kemana tujuan gue. Belum saatnya.



Gue inget persis saat itu. Langit di Cinunuk lumayan mendung dan udaranya sejuk banget. Dengan berbekal tekad dan nekad, gue berangkat menuju kota yang belum pernah gue injak seumur hidup. Surabaya.

Pesan moral : Jangan biarkan airmata menghalangi mimpi-mimpi lo, karena percayalah, kelak akan ada saatnya lo bisa menebus airmata perpisahan itu dengan pertemuan yang luar biasa.

You Might Also Like

0 komentar

Hatur Nuhun Sudah Mengomentari, Ya!