Hingga ke Ujung Dunia





Smileybackpacker.com -

“Hanya perlu satu langkah kecil untuk menuju kepada langkah-langkah berikutnya yang jauh lebih besar …” (Lygia Pecanduhujan)


            Ketika duduk di bangku sekolah dasar, sepulang sekolah aku sering kali menyempatkan diri berbaring di suatu tanah lapang yang selalu kulewati saat berjalan pulang bersama para sahabat. Bersama mereka, tak kupedulikan seragam sekolah yang kotor dipenuhi noda tanah bercampur keringat. Kami memandangi langit yang cerah dan berkhayal.

            Angkasa yang begitu biru, berpadu dengan gumpalan-gumpalan awan putih sering membawa kami ke gerbang khayalan yang sangat tinggi.

            “Lihat, awan yang itu seperti kuda, ya!” seru Amin, sahabatku yang berkulit sangat gelap.

            “Yang itu seperti kereta api!” sahut Andrian, sahabatku yang lain.

            Aku tetap asyik menikmati satu kumpulan gumpalan awan lain yang di mataku tampak menyerupai peta dunia seperti yang ada di buku mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Lamunanku melambung tinggi. “Jika seluruh luas daratan di bumi diukur, berapa luasnya, ya?” batinku. Ingatanku melayang-layang menyebut satu per satu nama negara yang aku tahu. Indonesia, Amerika, Cina, Jepang, Inggris, Hmm … ada berapa negara di dunia?


Foto Dokumen Pribadi


            Saat itu tak pernah terlintas dalam otakku seperti apa rasanya mengunjungi negara-negara di luar sana. Bagaimana rasanya naik pesawat terbang dari satu negara ke negara lain. Jangankan jalan-jalan ke luar negeri, keluar pulau Jawa pun aku belum pernah. Negara lain seolah bagaikan ada di sebelah dunia yang rasanya takkan pernah bisa aku kunjungi sampai kapan pun. Saat berbaring menatap langit itulah aku bertekad kelak aku harus menikmati gumpalan-gumpalan awan putih itu dari tempat lain, yang belum pernah aku datangi.

            Hingga selepas SMA, duniaku hanya berputar antara rumah dan sekolah. Sesekali berlibur di luar Jakarta jika liburan kenaikan kelas tiba. Itupun hanya sebatas ke Bandung, mengunjungi saudara-saudara sepupuku di sana. Dan well, aku cukup puas dengan hidupku saat itu.

            Setelah gelar Sarjana Hukum berhasil kuraih, aku memutuskan untuk menyusul orang tuaku pindah ke kota Paris Van Java. Menikah dan memiliki dua buah hati setelahnya adalah dunia baruku. Rutinitas harian yang luar biasa padat membuatku nyaris melupakan impian masa kecilku untuk menatap dunia dari tempat yang berbeda.

            Hingga suatu saat impian itu kembali datang menghampiri, ketika aku menatap keluar dari balik jendela kantorku yang terletak di lantai dua. Aku, yang saat itu merintis karier sebagai seorang jurnalis setelah berpisah dengan suami, baru saja menyelesaikan sebuah artikel. Tanpa sadar, aku melayangkan pandang ke luar jendela dan menemukan sebentuk awan putih yang berarak di atas langit Bandung. Ingatanku sontak terlempar pada suatu masa belasan tahun yang lalu ketika aku yang masih bocah berbaring di tanah lapang di tengah hari yang sangat terik hanya untuk menatap langit dan menikmati gumpalan-gumpalan awan.

            Mendadak, aku menyadari bahwa ternyata selama puluhan tahun aku hidup, belum pernah satu kali pun aku bepergian seorang diri menikmati dunia lain di luar duniaku yang sempit. Hidupku hingga saat itu menjadi terasa sangat menjemukan. Sementara banyak orang lain seusiaku mungkin telah berkeliling dunia, aku yang dulu hanya berkutat seputar sekolah, rumah, dan kampus, saat itu akhirnya melakukan hal yang sama. Hanya mengenal dua tempat yang kurasa adalah tempat teraman dan ternyaman di dunia, yaitu rumah dan tempatku bekerja.

            Tanpa sadar, aku menghapus air mata yang berebutan keluar dari sepasang mataku. Hidupku jadi terasa begitu sunyi. Aku, telah begitu banyak mengalami pahit-manis kehidupan, dan merasa menjadi tak berdaya karena tak mampu memaksa diri keluar dari zona nyamanku selama ini.

            Sejak saat itu aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus berani melompat keluar dari dalam tempurungku yang sempit dan menatap dunia yang sama sekali baru. Mimpi masa kecilku, bukan tak mungkin masih dapat kuraih. Kedua anakku telah melewati masa-masa balitanya. Mereka telah dapat kutinggal bersama kedua orang tuaku saat aku harus bekerja. Sepertinya, tak ada alasan lagi bagiku untuk terus-menerus menjadi katak yang selalu bersembunyi dalam tempurungnya.

            Seingatku, momen itulah yang memunculkan keberanianku untuk meraih impian masa kecilku. Momen sekian menit ketika aku tanpa sengaja menatap keluar jendela kantorku di lantai dua. Sekian menit yang begitu aku syukuri.

            Dengan berbagai pertimbangan, pada akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai jurnalis. Pekerjaan yang selama nyaris dua tahun telah menyelamatkan hidupku dan kedua anakku dari jurang kelaparan dan kemiskinan. Pekerjaan yang selama ini telah banyak memberikan pengalaman hidup yang luar biasa bagi seorang perempuan pemalu sepertiku.

            Aku memutuskan untuk memberikan waktu bagi diri sendiri untuk berlibur dari segala rutinitas yang selama bertahun-tahun telah kujalani. Aku lelah dengan hidupku, dan kurasa inilah saat yang paling tepat untuk mencoba hal-hal baru yang selama ini belum pernah aku lakukan. Sekarang, atau tidak sama, bisik hati kecilku.

            Nekat. Itulah yang aku rasakan tak lama sesudah pengunduran diriku dari tabloid tempatku bekerja. Aku menemukan diriku berada di atas sebuah kereta api menuju kota Surabaya. Ada sedikit keraguan dan rasa takut yang aku rasakan saat aku menyadari bahwa aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di kota itu. Dengan hanya berbekal sedikit uang yang kusisihkan dari tabungan, setelah menitipkan kedua belahan jiwa tercinta, aku memutuskan bahwa kota yang pertama kali ingin aku kunjungi adalah Surabaya.

            Aku tak memiliki keluarga di sana. Hanya ada beberapa teman yang bahkan belum pernah aku jumpai sebelumnya selain hanya saling menyapa di ruang-ruang maya dalam sebuah situs jejaring sosial yang sedang booming kala itu. Itu sebabnya aku namakan perjalanan pertama itu sebagai perjalanan yang penuh kenekatan, meski bukanlah tanpa pertimbangan.

            Lucu rasanya ketika mengingat betapa Mama begitu mencemaskanku ketika aku berpamitan. Maklum, ini adalah pertama kalinya aku bepergian jauh tanpa alasan apapun dan tanpa didampingi siapapun. Luar biasa, luar biasa, luar biasa, tanpa sadar aku menyenandungkan kata-kata itu sepanjang perjalanan.

            Surabaya, ternyata adalah kota yang tepat untuk memulai petualangan baruku meraih mimpi. Meski kota itu adalah kota yang sama sekali asing bagiku yang tak pernah bepergian keluar Jakarta dan Bandung, ternyata teman-teman baru yang kukenal lewat internet pada akhirnya menepati janji untuk menjemputku di stasiun dan menemaniku selama beberapa hari di sana. Tidak hanya itu, aku bahkan berhasil mengunjungi beberapa kota terdekat seperti Malang, Blitar, Mojokerto, hingga Madura.

            Perjalanan sepuluh hari yang tadinya kupikir akan menakutkan ternyata menjadi perjalanan yang membuatku seperti terlahir kembali. Aku tidak menginap di hotel berbintang, aku tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, aku malah menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat baru di tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Menginap di kampus, berbincang di pinggiran sungai Brantas, hingga diskusi sampai pagi di sebuah kafe ala mahasiswa yang sederhana.

            Dan, di suatu sudut dermaga tua di Pelabuhan Kamal, Madura, akhirnya aku dapat melihat awan putih itu. Sungguh, meski itu mungkin adalah awan yang sama seperti yang kulihat berbelas tahun yang lalu di Jakarta, atau berbulan-bulan lalu di Bandung, rasanya seperti baru pertama kali aku melihatnya. Sungguh norak, namun aku bahagia.

            Akhirnya aku berhasil meraih mimpiku meski masih dalam skala kecil. Dan rupanya, perjalanan sepuluh hariku itu bukan perjalanan terakhirku. Aku yang akhirnya menjadi kecanduan melakukan perjalanan memilih untuk menjadi seorang pejalan yang mencoba mencari pengalaman dan hikmah di setiap perjalanan yang kulakukan.

            Setelahnya, aku kembali ber-backpacker, kali ini menuju Yogyakarta dan sekitarnya. Aku menginjakkan kaki pula di kota Solo, Magelang, Semarang, Tegal, Pekalongan, Cirebon, Kuningan, hingga ke kota Banyuwangi. Aku mencoba pula menyinggahi kota-kota lain di pulau Jawa. Aku menemukan banyak sahabat baru yang akhirnya menjadi serupa saudara bagi hidupku.

            Sungguh, dahulu tak pernah terpikir bahwa aku akan memiliki keberanian seperti ini. Bagi kebanyakan orang, mungkin ini adalah hal sepele, tapi bagiku ini adalah merupakan pencapaian tersendiri dalam hidupku.

            Ya, impianku memang telah kuraih, meski belum sepenuhnya tuntas. Meski usiaku sudah tak muda lagi, aku masih berharap kelak dapat melakukan perjalanan lebih dari sekadar yang telah kulakukan. Setelah kota-kota di pulau Jawa tuntas kusinggahi, aku ingin dapat menginjakkan kaki di pulau-pulau lain. Dan, setelah aku berhasil menjejakkan kaki dari Sabang sampai Merauke, aku ingin kelak dapat membuat langkah yang jauh lebih besar lagi, BERKELILING DUNIA.

            Mustahil? Sepertinya tidak. Aku telah berhasil melakukan langkah pertamaku. Aku sangat yakin, langkah-langkah selanjutnya akan terasa jauh lebih mudah daripada itu.


You Might Also Like

0 komentar

Hatur Nuhun Sudah Mengomentari, Ya!